Kakek Nyomin dan Nenek Munah Saat Berjalan (12/12/2025). Warna Kalimantan
KALIMANTAN TENGAH, BARITO UTARA, MUARA TEWEH - Kabupaten Barito Utara bukan saja menyimpan kekayaan alamnya yang melimpah ruah serta kekayaan budaya yang menarik, ternyata jauh di hutan belantaranya sana terdapat sepasang cinta sejati yang dapat menjadi inspirasi.
Usai meliput di kawasan hutan perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur yang masih berupa hutan belantara dengan pepohonan raksasa yang menjulang tinggi dan gagah, burung-burung langka yang masih bertengger dipepohonan, Warna Kalimantan mendapati sepasang suami istri Dayak yang diperkirakan sudah berusia sekitar 70-80 tahun (12/12/2025).
Sepasang suami istri lansia ini didapati sedang berjalan amat pelan melalui jalan di Benangin sambil memegang sebuah tongkat untuk menjaga keseimbangannya saat berjalan. Senyumannya selalu dilemparkan kepada setiap orang-orang yang ditemuinya.
Hebatnya, mereka mampu berjalan tanpa alas kaki berkilo-kilometer jauhnya, dan masih mampu menaiki bukit yang tergolong tinggi meski terlihat sangat pelan dan hati-hati tiap melangkahkan kakinya setapak demi setapak.
Bahkan dengan telapak kakinya yang telanjang, sang suami sempat terlihat memadamkan puntung rokok orang lain yang masih menyala untuk mematikannya, karena khawatir terjadi kebakaran hutan.
Mereka berdua menurut warga sekitar, sang suami bernama Nyomin atau Matinyong dan sang istri bernama Munah. Mereka berdomisili di Benangin III dan sudah memiliki beberapa orang cucu.
Menurut warga, mereka berdua setiap pergi kemanapun selalu berdua sejak dahulu. Warga kagum setiap melihat lansia bertubuh kecil ini melintasi pemukiman mereka, dan mereka memuji keramahan sepasang suami istri ini.
"Terima kasih, terima kasih banyak," kata Nenek Munah menundukkan wajahnya sambil tersenyum ramah saat dihampiri.
Warga Dayak Kalimantan masih banyak yang mendiami di sekitar kawasan hutan dan menggantungkan hidupnya dari hutan dan berladang untuk menyambung hidup sehari-hari.
Dipondok-pondok kecil dengan dinding yang terbuat dari kulit pohon masih banyak keluarga Dayak yang menempatinya dihutan Kalimantan. Jauh dari listrik apalagi akses kedunia luar. Mereka seakan masih hidup 70-90 Tahun ke belakang saat kita sedang memasuki visi Indonesia Emas 2045.
