Saat Sungai Barito Surut di Muara Teweh Akibat Kemarau Panjang (23/8/2026). Foto : Warna Kalimantan
KALIMANTAN TENGAH, BARITO UTARA, MUARA TEWEH - Sungai Barito yang semakin surut akibat kemarau panjang selama berbulan-bulan, ditambah bebatuan yang mulai bermunculan di tengah sungainya, sebagai tanda sudah benar-benar semakin mengering, biasanya topik pembicaraan warga asli Barito Utara akan tertuju pada bangkai Kapal Onrust yang hanya beberapa kilometer di hilir kota Muara Teweh.
Hal ini wajar, karena hanya dengan Barito yang benar-benar surut bangkai kapal yang sangat bersejarah tersebut benar-benar bisa dilihat dengan mata kepala sendiri, selebihnya hanya bisa disaksikan dari foto-foto.
Buku sejarah yang dapat kami baca tentang kapal Onrust satu-satunya yang dimiliki penulis hanyalah buku yang diterbitkan pada tahun 1979 oleh H.G. Mayur, SH, seorang penulis dan jurnalis kelahiran Banjarmasin, 15 Agustus 1916, diterbitkan oleh CV. Rapi Banjarmasin.
H. G. Mayur pernah menjadi wartawan Suara Kalimantan dan Suara Umum di Surabaya serta Pemimpin Pendidikan Umum (Penerbitan) dan Majalah Terang Bulan/Tanah Air.
Adapun sumber pembanding dari negeri kincir angin sendiri tidak didapatkan. Upaya mencari penjelasan resmi melalui catatan-catatan Belanda lewat sahabat pena yang telah menjadi warga Belanda dan menaruh minat pada sejarah juga tidak diperoleh, maka satu-satunya sumber adalah buku tadi.
H. Gusti Mayur, menulis, "Tetapi rupanya pihak Belanda merasa sangat malu jika kerangka kapal Onrust tetap kelihatan terbenam di Lontontour. Ia ingin mencoba mengakat kapal itu. Verspyck ingin kapal Onrust tidaklah menjadi tugu peringatan kekalahan Belanda," begitu petikan buku "Perang Banjar" halaman 56.
Ditambahkannya lagi kata-kata Belanda yang ditulis dalam tanda kutip, "Van Lontontour Begint De Vietorie" artinya "Dari Lontontour Kemenangan Itu Dimulai."
Dikisahkan adanya upaya Belanda untuk melenyapkan bukti sejarah kekalahannya dengan mengambil kembali bangkai kapal Onrust (hlm.56). Kapal yang disebut telah tenggelam bersamanya 43 ABK dan 50 tentara marinir Belanda pada 26 Desember 1859 akibat serangan mendadak mematikan oleh Panglima Dayak Tumenggung Surapati dan pasukannya itu ingin "dihilangkan jejak" oleh Kerajaan Belanda.
Upaya mengangkat dan mengambil bangkai kapal Onrust disebut pernah terjadi pada awal bulan April 1860 dengan dikirimnya beberapa armada, yaitu Van Genep, Kingsbergen dan sebuah kapal kecil (bargas) diperkuat oleh tentara dan penyelam. Misi ini gagal karena saat itu Sungai Barito justru sedang banjir-banjirnya.
Selanjutnya pada Tanggal 1 dan 4 November 1860 Belanda berhasil mendinamit kapal Onrust yang menyebabkan beberapa bagian kapal Onrust hancur akibat ledakan. Kemungkinan, keadaan kapal Onrust seperti keadaannya saat ini dimana tidak lagi berbentuk kapal secara utuh salah satunya adalah karena faktor ini.
Masih dalam buku yang sama, dikatakan bahwa sumber didapatnya informasi kejadian tenggelamnya kapal Onrust ini berasal dari seorang pesuruh atau penghubung yang selamat dari peristiwa kapal Onrust (hlm.39). Pada tanggal 31 Desember 1959 ia berhasil dengan susah payah tiba di Banjarmasin (Dari 26 Desember 1859 sampai 31 Desember 1959). Darinyalah peristiwa malapetaka ini tersiar kemana-mana.
Mengangkat kapal Onrust ke permukaan dan memoseumkannya dapat menjadi penyemangat dan memperkuat ingatan sejarah perjuangan kemerdekaan generasi selanjutnya, sekaligus bahan kajian sejarah lebih lanjut para sejarawan masa kini.
